
Kebakaran pabrik pengolahan biji plastik di kawasan Cibolerang, Babakan Ciparay, Kota Bandung, pada Jumat, 6 Februari 2026, menjadi contoh nyata bahwa risiko industri tidak mengenal jam kerja. Peristiwa ini terjadi ketika fasilitas dalam kondisi tutup dan tidak ada aktivitas produksi maupun pekerja di dalam area.
Fakta tersebut sering kali luput dari perencanaan bisnis. Banyak pengelola industri mengasumsikan bahwa risiko tertinggi hanya muncul saat mesin beroperasi penuh. Padahal, pada fase “off-operational” inilah pengawasan manusia minim dan potensi kegagalan sistem pasif justru meningkat.
Material biji plastik yang mudah menyala mempercepat eskalasi api, membuat kebakaran berkembang signifikan sebelum terdeteksi atau ditangani secara efektif.
Titik Lemah yang Jarang Dibicarakan dalam Keamanan Industri
Dalam banyak diskusi keselamatan industri, fokus sering tertuju pada prosedur kerja dan perilaku operator. Namun insiden ini memperlihatkan celah lain yang tak kalah krusial: ketergantungan berlebih pada asumsi aman saat pabrik kosong.
Akses jalan yang terbatas menuju lokasi memperlambat mobilisasi armada pemadam. Di saat bersamaan, struktur bangunan dan tata letak internal menyulitkan penjangkauan titik api, memaksa petugas melakukan tindakan improvisasi seperti menjebol dinding bangunan.
Situasi ini menunjukkan bahwa risiko kebakaran tidak hanya ditentukan oleh sumber api, tetapi juga oleh kesiapan desain fasilitas dalam menghadapi kondisi darurat yang tidak direncanakan.
Dampak Nyata di Luar Angka Kerugian
Kerusakan fisik yang melanda sedikitnya lima bagian bangunan utama dengan estimasi kerugian ratusan juta rupiah hanyalah bagian yang terlihat. Dampak lain sering kali muncul belakangan:
- Gangguan rantai pasok, akibat terhentinya produksi bahan baku.
- Biaya pemulihan tak terduga, mulai dari pembersihan hingga audit ulang keselamatan.
- Tekanan non-teknis, termasuk kepercayaan mitra bisnis dan persepsi publik.
Dalam banyak kasus industri, fase pemulihan justru menjadi beban terberat, karena tidak seluruh risiko dapat diasuransikan atau diprediksi sejak awal.
Keamanan Tidak Bisa Bergantung pada Aktivitas Produksi
Kebakaran ini mempertegas satu hal penting: sistem keamanan yang efektif harus tetap bekerja bahkan ketika tidak ada manusia di lokasi. Tanpa deteksi dini dan perencanaan pasif yang memadai, jeda waktu antara munculnya api dan respons pertama dapat menjadi faktor penentu besarnya kerugian.
Ironisnya, banyak fasilitas industri baru mengevaluasi sistem keamanannya setelah insiden besar terjadi. Pada titik tersebut, ruang untuk pencegahan sudah jauh lebih sempit.
Refleksi bagi Pengelola Industri
Insiden di Bandung ini bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan cerminan tantangan umum di sektor industri berbasis material berisiko tinggi. Evaluasi terhadap sistem keamanan seharusnya tidak hanya berfokus pada jam operasional, tetapi juga pada periode ketika fasilitas dianggap “aman karena tidak digunakan”.
Keamanan aset industri adalah proses berkelanjutan, bukan status sementara. Dan kebakaran ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia industri, risiko tidak pernah benar-benar berhenti ia hanya menunggu celah.


